Misteri Mimpi

kenapa semua mamalia bermimpi dan apa yang terjadi jika kita tidak melakukannya

Misteri Mimpi
I

Pernahkah kita terbangun dengan napas terengah-engah karena baru saja berlari dari kejaran monster absurd? Atau tiba-tiba merasa malu luar biasa karena bermimpi pergi ke kantor tanpa memakai baju? Anehnya, saat hal itu terjadi, otak kita percaya seratus persen bahwa itu nyata. Setiap malam, kita mengalami halusinasi massal secara sukarela. Kita menyebutnya mimpi. Tapi coba perhatikan anjing atau kucing peliharaan teman-teman yang sedang tidur di sudut ruangan. Terkadang kakinya berkedut. Matanya bergerak-gerak cepat di balik kelopak yang tertutup rapat. Mereka ternyata juga sedang bermimpi. Pertanyaannya, kenapa? Kenapa alam semesta merancang otak kita dan makhluk-makhluk berbulu ini untuk memutar film sci-fi yang aneh setiap malam?

II

Mari kita berpikir sejenak secara evolusioner. Saat kita bermimpi, tubuh kita berada dalam fase tidur terdalam yang disebut Rapid Eye Movement atau REM. Di fase ini, otak secara aktif melumpuhkan otot-otot tubuh kita. Tujuannya sederhana, agar kita tidak bergerak menirukan adegan tinju atau lari di dalam mimpi. Tapi, coba bayangkan posisi ini jutaan tahun lalu. Kita adalah nenek moyang manusia yang tidur di padang sabana liar. Berada dalam kondisi lumpuh total selama berjam-jam setiap malam adalah ide yang sangat berbahaya. Kita bisa dengan sangat mudah menjadi camilan tengah malam bagi predator buas. Secara logika seleksi alam, evolusi seharusnya menghapus kebiasaan konyol ini jutaan tahun yang lalu. Tapi nyatanya tidak. Dari tikus kecil di selokan, anjing rumahan, hingga paus biru di samudra, semua mamalia tetap mempertahankan tradisi aneh ini. Pasti ada sebuah alasan yang sangat krusial. Ada sesuatu yang sangat berharga sehingga alam rela mengambil risiko kita dimangsa predator.

III

Untuk memecahkan misteri besar ini, para ilmuwan dan psikolog di pertengahan abad ke-20 mengajukan pertanyaan yang sedikit gelap. Apa yang terjadi jika kita sengaja dilarang bermimpi? Dalam berbagai eksperimen tidur klasik, para subjek penelitian diperlakukan secara khusus. Setiap kali gelombang otak mereka menunjukkan tanda-tanda akan masuk ke fase mimpi, peneliti langsung membangunkan mereka. Mereka diizinkan tidur, tapi tidak diizinkan bermimpi. Hasil eksperimen ini sangat mengerikan. Secara fisik mereka tampak baik-baik saja, tapi secara psikologis, mereka hancur berkeping-keping. Teman-teman, tanpa mimpi, tingkat kecemasan manusia meroket tajam. Subjek mulai kehilangan empati dan kesulitan mengingat hal-hal sederhana. Otak mereka menjadi begitu lapar akan fase REM. Begitu laparnya, hingga batasan antara dunia nyata dan alam bawah sadar mulai runtuh. Subjek mulai mengalami halusinasi di siang bolong. Otak yang dilarang bermimpi di malam hari akan memaksa kita bermimpi saat kita sedang berdiri sadar. Jika bermimpi hanyalah ilusi tak berguna, lalu kenapa ketiadaannya bisa melucuti kewarasan kita secara perlahan?

IV

Inilah temuan brilian dari para ahli neurosains moderen yang akan menjawab semuanya. Mimpi bukanlah sekadar sisa-sisa memori acak yang dibuang oleh otak. Mimpi adalah terapi emosional malam hari dan simulator virtual reality pertahanan hidup. Saat kita masuk ke fase mimpi, otak mematikan pelepasan noradrenalin, yaitu zat kimia utama pemicu stres dan kepanikan. Di lingkungan neurokimia yang sangat tenang inilah, otak memutar ulang pengalaman traumatis, rasa malu, dan emosi berat yang kita alami siang harinya. Kita sedang me-review masalah tanpa ada rasa panik yang menyertai. Itulah sebabnya luka batin dan patah hati seringkali terasa sedikit lebih ringan setelah kita tidur nyenyak. Selain itu, ada penjelasan dari kacamata sains komputer bernama The Overfitted Brain Hypothesis. Teori ini menyebutkan bahwa keseharian kita seringkali terlalu rutin, kaku, dan mudah ditebak. Agar otak kita tidak menjadi mesin yang tumpul, ia sengaja menciptakan skenario kacau dan absurd di dalam mimpi. Otak melatih kita menghadapi ketidakpastian. Jadi, saat kita bermimpi dikejar dinosaurus, secara biologis otak sedang melatih insting bertahan hidup kita agar lebih tajam, tanpa kita perlu benar-benar terluka.

V

Sekarang kita tahu betapa berharganya kekacauan di dalam kepala kita setiap malam itu. Mimpi bukan sekadar bunga tidur yang lewat begitu saja. Ia adalah penjaga kewarasan kita. Mimpi adalah sebuah pelukan hangat dari evolusi agar kita dan seluruh keluarga mamalia di bumi bisa bertahan menghadapi kerasnya dunia nyata. Jadi, teman-teman, mari kita ubah cara pandang kita mulai hari ini. Lain kali jika kita terbangun dari mimpi yang terasa sangat aneh, melelahkan, atau bahkan buruk, jangan buru-buru merasa kesal. Ambil napas panjang dan tersenyumlah sedikit. Ucapkan terima kasih pada otak kita yang sedang bekerja lembur melakukan perbaikan batin. Beri diri kita izin penuh untuk beristirahat. Nanti malam, matikan layar ponsel lebih awal, redupkan lampu kamar, dan biarkan diri kita tenggelam dengan aman dalam halusinasi yang menyembuhkan. Selamat merawat kewarasan, dan selamat bermimpi.